BERORGANISASI UNTUK BERAMAL

SELAMAT DATANG

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Senin, 19 April 2010

BRONCHITIS

BRONCHITIS

PENGKAJIAN
Observasi / Temuan :
• Sesak nafas.
• Batuk : - Menetap
- Produktif
• Sputum pagi hari : - Kental, lengket, banyak.
- Mukopurulen
• Bunyi nafas : - Menyebar
- Krekels lembab
- Ronkhi.
• Pernafasan Mengi : - Bronkhospasme
- Sianosis, “kulit kebiruan “
• Pada hipoksemia / hiperkapnia berat, bisa timbul :
o Penurunan kesadaran s/d koma.
o Tremor.
o Flaksid.
o Twitching.

Pemeriksaan Diagnostik / laboratorium:
1. Pemeriksaan Sinar x / Foto Dada :
• Tubular Shadows atau Tram lines.
Terlihat bayangan garis-garis yang paralel, keluar hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan bronkhus yang menebal.
• Corak paru yang bertambah
• Peningkatan ukuran paru
2. Test Fungsi Paru :
• VEP 1 dan KV : Menurun.
• VR : Meningkat.
• KTP : Normal.
• KRF : Sedikit naik atau mungkin normal pada bronkhitis murni.
3. Analisis Gas Darah :
• PaO2 : Menurun.
• PaCO2 : Meningkat / naik.
• Saturasi hemoglobin : Menurun.
• Asidosis respiratorik.
• Vasokontriksi pembuluh darah paru dan peningkatan eritropoeisis.
4. Sekresi sputum :
• Peningkatan leukosit neutrofil ;
Polimorfonuklear.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial dan atau sekresi berlebihan dan kental.
Intervensi :
a. Ajarkan klien tentang model yang tepat pengontrolan batuk :
• Nafas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
• Latihan pernafasan diafragma.
• Tahan nafas selama 3 sampai 5 detik kemudian secara perlahan-lahan keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. (Sangkar iga bawah dan abdomen harus turun).
• Lakukan nafas kedua, tahan, dan batukkan dari dada (bukan dari belakang mulut dan tenggorokan) dengan melakukan dua batuk pendek dan kuat.
b. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi :
• Mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan pemasukan cairan 2 sampai 3 quart sehari bila bukan merupakan kontra indikasi karena penurunan curah jantung atau penyakit ginjal.
• Pertahankan kelembaban adekuat udara yang di hirup.
c. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
d. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
Pasien mempertahankan patensi jalan nafas yang ditunjukkan dengan:
 Perbaikan bunyi nafas.
 Batuk menghasilkan sekresi sedikit

2. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan insufisiensi oksigenasi (ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen) untuk aktivitas dan keletihan.
Intervensi :
a. Jelaskan aktivitas dan faktor yang meningkatkan kebutuhan oksigen.
• Merokok.
• Suhu sangat ekstrem.
• Berat badan berlebih.
• Stress
b. Siapkan klien dengan ide-ide untuk penghematan energi :
• Duduk bila memungkinkan saat AKS, misal: saat mandi pancuran.
• Membuat jarak aktivitas sepanjang hari.
• Menjadwalkan periode istirahat yang cukup.
• Selang-seling antara tugas yang mudah dan sulit sepanjang hari
c. Secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi
d. Ajarkan klien teknik nafas efektif, seperti pernafasan diafragma dan pursed-lips.
e. Ajarkan pentingnya penyangga berat lengan.
f. Ajarkan cara meningkatkan ketahanan lengan yang tidak disangga dengan melakukan latihan ekstremitas bagian bawah selama fase ekshalasi pernafasan.
g. Pertahankan terapi oksigen tambahan, sesuai kebutuhan.
h. Memberikan dukungan emosional dan semangat.
i. Setelah aktivitas, kaji respons abnormal untuk peningkatan aktivitas :
• Penurunan nadi.
• Penurunan atau tidak ada perubahan tekanan darah sistolik.
• Peningkatan atau penurunan frekwensi.
• Kegagalan nadi untuk mendekati frekwensi istirahat dalam 3 menit setelah aktivitas.
• Kusut fikir, vertigo, gerakan tak terkoordinasi.
j. Rencanakan waktu istirahat yang cukup sesuai jadwal harian klien.
k. Evaluasi status nutrisi klien.
l. Jelaskan efek-efek malnutrisi.
• Mortalitas lebih tinggi.
• Penekanan sistem imun.
• Penurunan kekuatan otot diafragma dan dinding dada.
• Penurunan produksi surfaktan
m. Kaji masalah yang berhubungan dengan makan.
• Bernapas sulit saat makan.
• Gas abdominal.
• Belanja bahan dapur.
• Persiapan makan
n. Ajarkan strategi untuk meningkatkan status nutrisi.
• Makan diet tinggi lemak dan kalori.
• Hindari makanan tinggi lemak dan kalori.
• Siapkan makanan terlebih dahulu.
• Duduk saat menyiapkan makanan.
• Minum banyak (2000-2500 ml) per hari.
• Hindari susu, coklat, dan makanan yang meningkatkan produksi saliva.
• Hindari caffeine dan alkohol.
• Hindari makanan garing dan panas.
• Makan 4 – 6 kali dalam jumlah kecil.
o. Ajarkan cara menghemat energi saat berbelanja.
• Gunakan kereta belanja.
• Pilih toko yang lebih kecil.
• Minta pelayan untuk memasukkan sedikit belanjaan dalam tiap kantong.
• Minta pelayan untuk memasukkan makanan beku dan dingin dalam kantong yang sama.
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
Pasein mendemonstrasikan peningkatan toleransi terhadap aktivitas seperti yang ditunjukkan oleh kemampuan untuk melakukan AKS tanpa menunjukkan keletihan ekstrem atau dispnea.

3. Anxietas / ketakutan yang berhubungan dengan kesukaran bernapas dan takut sesak nafas / asfiksia..
Intervensi :
a. Upayakan lingkungan yang tenang saat klien mengalami kesulitan bernapas.
b. Jangan meninggalkan klien sendiri selama periode sulit bernapas akut.
c. Tanggapi rasa takut klien dan berikan penguatan positif terhadap upaya yang dilakukan. Tanggapi bila dispnea memburuk dari biasanya.
d. Tanggapi perasaan ketidakberdayaan. Hindari menganjurkan “Kendalikan“ atau “Tenang “.
e. Berikan bantuan untuk semua tugas selama episode akut sesak nafas.
f. Selama episode akut jangan mendiskusikan tindakan pencegahan.
g. Peragakan teknik bernafas dan suruh klien melakukannya dengan perawat.
h. Selama periode non akut ajarkan teknik relaksasi, mis: dengan mendengarkan kaset, panduan imaginer.
i. Selama periode sesak nafas akut lakukan hal berikut :
• Buka tirai dan pintu
• Singkirkan peralatan yang tidak diperlukan.
• Batasi pengunjung.
• Hilangkan asap dan bau
j. Dorong klien untuk menggunakan teknik bernapas, khususnya selama waktu ansietas meningkat. Pandu klien dalam latihan bernapas.
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
Pasien akan mengalami penurunan rasa ketakutan dan anxietas yang ditunjukkan dengan :
• Ekspresi wajah relax
• Mengatakan perasaan kegelisahan kurang.
• Mengungkapkan pengertian tentang rutinitas rumah sakit, prosedur, dan proses penyakit.

4. Resiko terhadap gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia sekunder akibat dispnea, halitosis dan keletihan.
Intervensi :
a. Kaji status nutrisi: berat badan per hari, pantau masukan diet.
b. Catat masukan oral dengan menggunakan penghitungan kalori.
c. Pantau kadar albumin dan limfosit.
d. Berikan dorongan untuk beristirahat untuk mengurangi keletihan.
e. Berikan diet cair sampai lembut, tinggi protein. Berikan makanan pengganti.
f. Berikan makanan yang menarik.
g. Berikan makanan dalam jumlah kecil namun sering untuk mengurangi tekanan abdomen pada diafragma.
h. Berikan dorongan orang terdekat untuk membawakan makanan kesenangan pasien.
i. Lakukan hygiene oral sebelum makan.
j. Timbang pasien setiap hari pada waktu yang sama dengan pakaian dan timbangan yang sama.
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
 Status nutrisi pasien dipertahankan atau meningkat ditunjukkan oleh berat badan yang stabil dan dalam atau menunjukkan batasan normal terhadap tinggi-usia dan bentuk tubuh pasien.
 Masukan makanan pasien meningkat
 Albumin dan limfosit dalam batas normal.

5. gangguan pola tidur yang berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan untuk mengambil posisi recumbent dan stimulus lingkungan.
Intervensi :
a. Jelaskan siklus tidur dan signifikasinya :
• Tahap I : tahap transisional antara bangun dan tidur (5% dari tidur total).
• Tahap II : tidur tetapi mudah terbangun (50%-55% dari tidur total).
• Tahap III : tidur lebih dalam; lebih sulit terbangun (10% dari tidur total)
• Tahap IV : tidur paling dalam; metabolisme dan gelombang otak lambat (10% dari tidur total)
b. Diskusikan perbedaan individual dalam kebutuhan tidur berdasarkan hal berikut :
• Usia.
• Tingkatan aktivitas.
• Gaya hidup.
• Tingkat stress.
c. Tingkatkan relaksasi :
• Berikan lingkungan yang gelap dan tenang
• Berikan kesempatan untuk memilih penggunaan bantal, linen, dan selimut.
• Berikan ritual waktu yang menyenangkan bila perlu.
• Pastikan ventilasi ruangan yang baik
• Tutup pintu ruangan, bila klien menginginkan
d. Rencanakan prosedur untuk membatasi gangguan tidur. Biarkan klien tidur sedikitnya 2 jam tanpa gangguan.
e. Jelaskan mengapa hipnotik atau sedatif harus dihindari.
f. Bila diinginkan, tinggikan kepala tempat tidur setinggi blok 25 cm atau gunakan penopang dengan bantal di bawah lengan.
g. Lakukan tindakan untuk mengontrol batuk.
• Hindari memberikan klien cairan panas atau dingin pada waktu tidur.
• Konsul dokter untuk antitusif, sesuai kebutuhan.
h. Ajarkan klien tindakan untuk meningkatkan tidur.
• Makanan kudapan (snack) tinggi protein sebelum tidur mis: keju, susu.
• Hindari cafein.
• Upayakan untuk tidur hanya jika merasa mengantuk.
• Bila terjadi kesulitan tidur tinggalkan ruang tidur dan ikuti aktivitas kecil seperti membaca, di ruang lain.
• Coba untuk mempertahankan kebiasaan tidur yang sama 7 hari seminggu
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
Klien akan melaporkan kepuasan keseimbangan istirahat dan tidur.
6. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan infeksi, latihan pernafasan, faktor resiko, tanda-tanda dan gejala serta komplikasi.
Intervensi :
a. Bantu klien merumuskan dan menerima tujuan jangka pendek dan panjang yang realistik.
b. Ajarkan tentang diagnosa dan regimen tindakan.
c. Ajarkan tindakan untuk membantu mengontrol dispnea dan infeksi ;
1) Makan diet seimbang.
2) Melakukan istirahat yang cukup
3) Meningkatkan aktivitas secara bertahap
4) Hindari pemajanan pada hal berikut :
• Rokok / asap.
• Debu.
• Polusi udara berat (jam lalu lintas padat).
• Suhu ekstrem panas atau dingin
d. Ajarkan dan biarkan klien memperagakan latihan bernapas.
• Spirometri intensif.
• Latihan diafragma: letakkan jari-jari pada iga bawah; tarik nafas, dorong keluar melawan tekanan ringan dari jari-jari.
• Latihan apek paru: Berikan tekanan ringan tepat di bawah klavikula saat anda menarik nafas. Saat menghembuskan nafas, berikan tekanan pada sternum dengan tumit tangan anda.
• Latihan posterior paru: berbaring miring, dan minta orang lain meletakkan kedua tangannya di atas thorax bagian bawah dan memberikan tekanan saat anda menghembuskan nafas.
• Latihan area iga lateral bawah: hembuskan nafas dengan sempurna, kemudian minta orang lain untuk memberikan tekanan pada area iga bawah dengan kedua tangannya saat anda menghirup nafas. Selama menghembuskan nafas, kencangkan abdomen saat orang lain memberikan tekanan.
e. Ajarkan dan evaluasi teknik drainase postural.
• Lakukan posisi dependen untuk mengalirkan area paru yang sakit, menggunakan bantal atau bersandar pada kursi.
• Batuk dan keluarkan sekresi saat posisi dependen.
• Tahan posisi ini selam 10 sampai 15 menit.
f. Nasihatkan klien untuk tidak melakukan latihan nafas langsung sebelum atau sesudah makan.
g. Jelaskan bahaya infeksi dan cara menurunkan resiko :
• Hindari kontak dengan orang yang terinfeksi.
• Menerima imunisasi melawan influenza dan pneumonia bakterial.
• Minum antibiotik sesuai resep bila sputum menjadi kuning atau hijau.
• Patuhi fisioterapi dada, obat-obatan, dan jadwal hidrasi.
• Bersihkan semua alat dengan baik.
h. Instruksikan klien untuk melaporkan hal berikut :
• Perubahan karakteristik sputum atau kegagalan sputum untuk kembali ke warna semula selama 3 hari terapi antibiotik.
• Peningkatan suhu.
• Peningkatan batuk, kelemahan, atau nafas pendek.
• Peningkatan kusut pikir atau kecendrungan tidur.
• Penurunan berat badan.
• Peningkatan berat badan atau pembengkakan pada pergelangan kaki atau telapak kaki.
i. Ajarkan dan observasi penggunaan nebulizer yang dapat dipegang atau inhaler dosis terukur dan terapi oksigen.
• Mencuci tangan.
• Menyusun peralatan, bahan.
• Menggunakan dosis obat yang tepat.
• Posisi yang tepat
• Pembersihan alat yang tepat sesudah digunakan
j. Ajarkan metode untuk menghemat energi.
Hasil yang diharapkan / evaluasi:
Klien atau keluarga mampu:
 Mengidentifikasikan tujuan jangka pendek dan panjang.
 Mengidentifikasikan penyesuaian yang diperlukan dalam pemeliharaan diri.
 Menyebutkan cara mencegah penyimpangan pulmonal lebih lanjut.
 Menyebutkan tanda dan gejala yang harus dilaporkan pada tenaga pelayanan kesehatan.
 Mengidentifikasi sumber-sumber komunitas yang dapat memberikan bantuan dalam penatalaksanaan di rumah

Diagnosa Kolaboratif
Potensial komplikasi : Hipoksemia
Potensial komplikasi : Gagal jantung sebelah kanan
Tujuan keperawatan :
Perawat akan meminimalkan dan mengatasi komplikasi kardiovaskular.
Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda ketidakseimbangan asam-basa :
• Analisis gas darah arteri (GDA) : pH < 7,35 dan PCO2 > 46 mmHg.
• Nadi meningkat dan tidak teratur
• Peningkatan frekwensi perawatan diikuti dengan penurunan frekwensi nadi.
• Perubahan fungsi mental.
• Penurunan haluaran urine (< 30 ml/jam).
• Kulit dingin, pucat atau cyanosis.
2) Berikan oksigen aliran rendah (2 L/menit) sesuai kebutuhan melalui kanula.
3) Ambil sampel sputum untuk pemeriksaan kulitur dan sensitifitas.
4) Hilangkan bau tak enak dan asap diruangan klien.
5) Pantau elektrokardiogram (EKG) terhadap disritmia sekunder terhadap perubahan gas darah arteri (GDA).
6) Pantau tanda-tanda gagal jantung kongestif sebelah kanan :
• Peningkatan tekanan diatolik.
• Distensi vena leher.
• Edema perifer.
• Peningkatan tekanan vena sentral (CVP)
7) Rujuk ke rencana perawatan gagal jantung kongestif untuk intervensi tambahan bila terjadi gagal jantung sebelah kiri
Intervensi Program Dokter yang Berhubungan:
Obat-obatan
Bronkodilator Adrenergik
Kortikosteroid (oral, inhalasi) Antimikrobal.
Simpatomimetik (inhalasi) Antitusf (non narkotik)
Terapi Intravena
Variabel tergantung pada bentuk pemberian pengobatan.
Pemeriksaan laboratorium.
Analisis GDA Elektrolit.
Albumin serum. Pemeriksaan fungsi hepar
Kultur sputum. Hitung darah lengkap (HDL) dengan pembanding
Pemeriksaan Diagnostik
Foto rontgen dada Tes fungsi pulmonal
Bronkografi Tes stres
Terapi
IPBP (intermetten positive-pressure breathing) Fisioterapi dada.
Oksigen rendah melalui kanula. Nebulizer ultrasonik





DAFTAR PUSTAKA

1. Huddak and Gallo.Perawatan Kritis, Volume I. Penerbit EGC. Jakarta. 1996
2. Carpenito, Lynda Juall. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit EGC. Jakarta. 2001.
3. Carpenito, Lynda Juall. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. Penerbit EGC. Jakarta. 1999.
4. Soeparman, Sarwono. W. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1998.
5. Susan Martin T, dkk. Patient Care Standard; Nursing Process, Diagnosis and Outcome. Volume 2. Edisi V. Penerbit EGC. Jakarta. 1998
Tugas Medical Bedah II

Tidak ada komentar:

Posting Komentar