BERORGANISASI UNTUK BERAMAL

SELAMAT DATANG

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Sabtu, 01 Mei 2010

Karsinoma nasofaring

Karsinoma nasofaring

Pengertian

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang berlokasi di daerah faring. Hampir 60% tumor ganas pada daerah kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring.

Etiologi

Sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus epstein-barr. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa pada penderita karsinoma nasofaring didapatkan titer anti virus epstein-barr cukup tinggi.

Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya karsinoma nasofaring adalah letak geografi, rasial, jenis kelamin,genetik,pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, budaya, sosial ekonomi, infeksi kuman dan parasit lain.

Patofisiologi

Nasofaring terletak di belakang tabir langit-langit dan di bawah dasartengkorak.letak yang demkian sulit untuk diperiksa oleh orang yang bukan ahli, sehingga sering kali tumor ditemukanterlambat dan menyebabkan metastase ke leher.

Berkait dengan hal tersebut, maka gejala yang timbul pada karsinoma nasofaring cukup kompleks dan digolongkan dalam 4 kelompok yaitu:

1. Gejala nasofaring
Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung. Hal ini perlu pemeriksaan cermat seperti nasofaringoskop.

2. Gejala telinga
Letak nasofaring yaitu dekat dengan muaratuba eustakius, sehingga ganggua yang timbul dapat berupa tinitus, rasa tidak enak ditelinga bahkan kadang-kadang timbul nyeri pada telinga (otolgia).

3. Gejala mata
Nasofaring berhubungan dan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang. Penjalaran dari karsinoma melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak iii, iv dan vi. Gejala yang nampak dari gangguan tersebut adalah diplopia dan neuralgia trigeminal.

4. Gejala saraf
Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ix, x, xi dan xii. Penderita akan mengalami kesulitan dalam mrngunyah.
Penatalaksanaan medis

1. Radioterapi
2. Kemoterapi
3. Pembedahan.

Rencana keperawatan terintergrasi

1. Kanker
2. Kehilangan
3. Kemoterapi dan radioterapi
4. Pembedahan

Pengkajian data dasar

1. Riwayat atau adanya faktor resiko
- Perokok berat
- Peminum alkohol
- Terpapar terhadap lingkungan karsinoma (polusi udara, arsenik, debu logam, asap kimia dll)

2. Pemeriksaan fisik
A. Sistem pernafasan
- Epistkasis
- Hidung tersumbat
- Dispnea
- Infeksi saluran pernafasan berulang
- Disfagia

B. Sistem pendengaran
- Tinitus
- Rasa tidak enak di telinga
- Nyeri pada telinga

C. Sistemsaraf dan mata
- Nyeri saat mengunyah
- Sukar membuka mata (diplopia)

Pemeriksaan penunjang

1. Ct-scaning daerah kepala dan leher
2. Pemeriksaan serologi ig a anti ea dan vca
3. Biopsi


Diagnosa keperawatan

1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perkembangan penyakitnya, pemeriksaan diagnostik dan rencana tindakan.
2. Nyeri berhubungan dengan penekanan dan kerusakan ujung saraf bebas oleh carsinoma nasofaring.
3. Kurang efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan oleh karsinoma nasofaring.
4. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya asupan makanan, sakit saat mengunyah

Rencana tindakan

1. Cemas beruhbungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perkembangan penyakitnya, pemeriksaan diagnostikdan rencana tindakan.
Ditandai:
Data subyektif:
- Sering bertanya
- Menyatakan kurang mengerti tentang penyekitnya
- Menyatakan perasaan sering gugup dan takut.

Data obyektif:
- Ekpspresi wajah tegang
- Tensi, nadi meningkat
- Kadang-kadang berkeringat dingin

Kriteria evaluasi
- Menyatakan pemahaman tentang penyakitnya, rencana tindakan dan pemeriksaan diagnostik
- Menyatakan tidak gugup dan takut
- Ekspresi wajah rileks
- Tensi, nadi dalam batas normal

Intervensi Rasional
1. Berikan informasi tentang:
- sifat penyakit dan perjalannannya
- pemeriksaan diagnostik meliputi:
tujuan, prosedur kerja, persiapan sebelum pemeriksaan dan perawatan setelah pemeriksaan.
- Tindakanyang diprogramkanmeliputi: efek samping dari radioterapi dan kemoterapi.

2.ikut sertakan orang- orang yang berarti bagi pasien dalam setiap tindakan atau penyuluhan untuk memberi dukungan.


3. Pertahankan kontrol nyeri yang efektif. Mengetahui apa yang diharapkan dari tindakan medis dapat membantu kepatuhan pasien dan membantu menurunkan cemas yang berhubungan dengan tindakan medis.





Sistem pendukung yang kuat penting dalam membantu individu secara efektif mengatasi masalah dengan penyakit kronis.

Nyeri dapat mencetuskan cemas.



2. Nyeri berhubungan dengan penekanan dan kerusakan ujung saraf bebas oleh karsinoma nasofaring.
Ditandai
Data subyektif:
- Menyatakan nyeri

Data obyektif:
- Raut muka menyeringai
- Perilaku berhati-hati
- Perilaku mengalihkan: menangis, merintih

Krietria evaluasi:
- Tidak lagi menyatakan nyeri
- Ekspresi wajah rilkes.

Intervensi Rasional
1. Untuk menimalkan nyeri:
- Membalik dengan hati-hati dan beri dukungan
- Hindari gerakan kepala yang mendadak.
- Ubah posisi setiap 2 jam.
- Lakukan teknik relaksasi.

2.kolaboratif dalam pemberian analgetik Metastase karsinoma pada beberapa organ dapat menyebabkan nyeri yang hebat. Gerakan yang mendadak dan sentuhan dari orang lain dapat menimbulkan rasa nyeri.



Kontrol nyeri pada pasien karsinoma sering menggunakan narkotik dosisi tinggi..

3. Kurang efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan tersumbatnya atau benjolan pada nasofaring.
ditanadi:
Data subyektif:
- Menyatakan kesulitan untuk bernafas.

Data obyektif:
- Sesak nafas
- Frekwensi nafas > 20 x/menit
- Nampak kebiruan

Kriteria evaluasi:
- Frekwensinafas 12- 20 x/menit
- Warna kulit normal

Intervensi Rasional
1. Pantau :
- Status pernafasan tiap 2 jam.
- Hasil pemeriksaan paru-paru dan analisa gas darah.

2. Ketika terjadi dispnea:
- Berikan oksigen tambahan.
- Implementasikan tindakan untuk mengurangi cemas.
- Membantu pasien agar merasa dalam keadaan terkontrol : temani pasien dan intruksikan untuk bernafas perlahan-perlahan.
- Pertahankan posisi tegak.

3. Siapkan pasien untuk trakheostomi. Untuk mengidentifikasi indikasi perkembangan dan penympangan dari hasil yang diharapkan.


Membantu menurunkan upaya untuk bernafas dengan meningkatkan jumlah oksigen ke jaringan.
Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih penuh dengan menurunkan tekanan abdomen.

5. Perubahan nutrisi:kurang darti kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang adekuatnya asupan makanan, sakit saat mengunyah.
Ditandai:
Data subyektif:
- Mengemukakan tidak nafsu makan, sakit saat mengunyah.
- Kadang-kadang mual

Data obyektif:
- Bb menurun
- Kulit kering
- Turgor kurang baik
- Tampak lemas.

Kriteria evaluasi
- Tidak terjadi penurunan bb
- Turgor kulit baik
- Tampak segar

Intervensi Rasional
1. pantau:
- Masukan makanan
- Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
- Timbang bb setiap minggu

2.lakukan kontrol terhadaprasa nyeri.

3. Ciptakan suasana lingkungan yang menyenangkan dan bebas dari bau selama waktu makan.

4. Lakukan pemasangan infus. Untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.



Nyeri sebagai pencetus penurunan nafsu makan.

Bau-bauan dan pemandangan yang tidak menyenagkan selama waktu makan dapat menimbulkan anoreksia.

Dengan cairan infus sebagai masukan nutrisi secara parenteral.





Daftar pustaka


Doenges m.e., (1992). Nursing care planes, f.a.davis caompany, philadepia.

Lukman and soensen’s, (1993), medical surgical nursing, w.b. saunders, philadepia.

Barbara engram, (1998). Rencana asuhan keperawatan medikal bedah. Egc, jakarta.

Tucker m.s., (1998). Standar perawatan psien. Egc. Jakarta.

Pengkajian keperawatan

Pengkajian dilakukan pada tanggal 9 april 2001 di ruang tropik infeksi pria rsud dr. Soetomo surabaya.









Daftar pustaka

Capernito l.j., (1997). Nursing diagnosisi, jb lippincort, philadelpia.

Doenges m. At al, (1993). Medical-surgical, f.a. davis, philadelpia.

Engram b. (1996). Rencana asuhan keperawatan medikal bedah, egc, jakarta.

Joyce m.b., estner m.j., (1993). Medical surgical, wb saunders company, philadelpia.

-----------(1988), buku ajar diare untuk pendidikan keperawatan, depkes ri, jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar